Puisi Sukmawati Melecehkan Suara Adzan

Setelah MCA dibekuk Polisi, rasanya kita berselancar di dunia maya baik facebook, youtube, twitter, dan instagram tenang damai seperti Islam yang selalu cinta damai. Ketenangan itu kembali terusik oleh suara puisi sumbang dari seorang ibu pertiwi yang Ayahnya sangat mengharumkan nama Indonesia yaitu Soekarno. Puisi Sukmawati tentang Ibu Indonesia, isinya membawa-bawa perbandingan Sari Konde dengan Suara Adzan. Kalau belum tahu, tonton aja youtube.


Apa perbedaan Puisi Kontroversi Sukmawati ini dengan Kasus penistaan agama oleh mantan Gubernur DKI Basuki Tjahya Purnama? Kita selami lebih jauh yuuk, biar agak mengerti.

Menurut pandangan saya, dengan standarisasi ilmu sederhana yaitu simple opinion. Ahok kan kita ketahui karakternya jelas, kalau ngomong suka cuplas ceplos, ngomong spontanitas tanpa disaring terlebih dulu, itu karakter Ahok. Nah kalau Puisi, bisa dirancang dulu, ditulis dulu sebagian, kalau belum selesai didiamkan dulu sampai ada ide lain muncul di pikiran kita dan ditulis kembali. Puisi itu sudah melalui beberapa tahapan penulisan seperti perencanaan, penyusunan gagasan, penyelaman makna, dan eksekusi.

Kalau bagi orang normal yang ingin bangsanya maju, seorang seniman puisi akan menulis tentang kritikan tajam terhadap pemerintah dengan tujuan agar bangsa ini maju. Manusia normal akan menulis puisi tentang ajakan untuk bangkit dari keterpurukan. Orang biasa akan menulis puisi tentang Budayakan Sari konde di Indonesia atau kebaya asli budaya Indonesia dengan harapan Anne Avanty menjadi pelopor dalam kebangkitan pakaian kebaya ciri khas budaya bangsa.

Puisi Sukmawati ini terlalu kelewat batas, lebih parah dari Ahok, parahnya, Puisi itu telah dilakukan penyelaman makna. Kalau saya yang buat, bikin puisi pikir-pikir dulu apakah bisa menyinggung orang lain tidak, kalau tidak ganti dengan kata-kata lain. Apakah isi puisi tersebut tidak berbau sara, pornografi, atau pelecehan seksual, dan sebagainya. Ini konsep dasar dalam berpuisi loh. Saya pun bisa buat puisi, semua orang pasti bisa bikin puisi, menulis pun ada aturannya di google, di blog, atau di youtube sekalipun. Nah ini seperti enggak pake aturan yah kalau dalam Bahasa kerennya Tos (Term Of Service).

Kalau sebuah puisi telah disusun, dirancang, dan tahu maknanya, terus dipublikasikan, dan ternyata membuat gaduh, menyinggung satu golongan, dan berbau Sara. Semua orang yang mengerti Hukum Indonesia pasti Tahu Apa konsekuensinya. Jangan-jangan Syariat Hukum Pidana di Indonesia juga Enggak Tahu!! Kalau saya memang bukan ahli hukum jadi tidak tahu. Satu hal yang saya tahu, Ahok saja bisa kena hukum dan dipenjara karena penistaan Agama, apalagi yang satu ini Puisi Ibu Indonesia, yang sudah jelas penuh perencanaan matang, penuh penyelaman makna yang sudah tahu konsekuensinya.

Kalau menurut saya, Pakar Hukum yang sangat ahli adalah Bapak. Yusril Ihza Mahendra. Tinggal kita melihat nanti bagaimana tanggapan Beliau terhadap kasus penistaan Agama Jilid II ini.

Comments